Prinsip – Prinsip Belajar Bagi Orang Dewasa

Prinsip – Prinsip Belajar Bagi Orang Dewasa

Ada 9 Prinsip Belajar Orang Dewasa :

 

  1. RECENCY

Hukum dari Recency menunjukkan kepada kita bahwa sesuatu yang dipelajari atau diterima pada saat terakhir adalah yang paling diingat oleh peserta/ partisipan. Ini menunjukkan dua pengetian yang terpisah di dalam pendidikan. Pertama, berkaitan dengan isi (materi) pada akhir sessi dan kedua berkaitan dengan sesuatu yang “segar” dalam ingatan peserta. Pada aplikasi yang pertama, penting bagi pelatih untuk membuat ringkasan (summary) sesering mungkin dan yakin bahwa pesan-pesan kunci/inti selalu ditekankan lagi di akhir sessi. Pada aplikasi kedua, mengindikasikan kepada pelatih untuk membuat rencana kaji ulang (review) per bagian di setiap presentasinya.

 

  1. APPROPRIATENES (Kesesuaian)

Hukum dari appropriatenes atau kesesuaian mengatakan kepada kita bahwa secara keseluruhan, baik itu pelatihan, informasi, alat-alat bantu yang dipakai, studi kasus -studi kasus, dan material-material lainnya harus disesuaikan dengan kebutuhan peserta/partisipan. Peserta akan mudah kehilangan motivasi jika pelatih gagal dalam mengupayakan agar materi relevan dengan kebutuhan mereka. Selain itu, pelatih harus secara terus menerus memberi kesempatan kepada peserta untuk mengetahui bagaimana keterkaitan antara informasi-informasi baru dengan pengetahuan sebelumnya yang sudah diperolah peserta, sehingga kita dapat menghilangkan kekhawatiran tentang sesuatu yang masih samar atau tidak diketahui.

 

  1. MOTIVATION (motivasi)

Hukum dari motivasi mengatakan kepada kita bahwa pastisipan/peserta harus punya keinginan untuk belajar, dia harus siap untuk belajar, dan harus punya alasan untuk belajar. Pelatih menemukan bahwa jika peserta mempunyai motivasi yang kuat untuk belajar atau rasa keinginan untuk berhasil, dia akan lebih baik dibanding yang lainnya dalam belajar. Pertama-tama karena motivasi dapat menciptakan lingkungan (atmosphere) belajar menjadi menye-nangkan. Jika kita gagal menggunakan hukum kesesuaian (appropriateness) tersebut dan mengabaikan untuk membuat material relevan, kita akan secara pasti akan kehilangan motivasi peserta.

 

  1. PRIMACY ( m enarik p erhatian di awal sessi)

Hukum dari primacy mengatakan kepada kita bahwa hal-hal yang pertama bagi peserta biasanya dipelajari dengan baik, demikian pula dengan kesan pertama atau serangkaian informasi yang diperoleh dari pelatih betul-betul sangat penting. Untuk alasan ini, ada praktek yang bagus yaitu dengan memasukkan seluruh poin-poin kunci pada permulaan sessi. Selama sessi berjalan, poin-poin kunci berkembang dan juga informasi-informasi lain yang berkaitan. Hal yang termasuk dalam hukum primacy adalah fakta bahwa pada saat peserta ditunjukkan bagaimana cara mengerjakan sesuatu, mereka harus ditunjukkan cara yang benar di awalnya. Alasan untuk ini adalah bahwa kadang-kadang sangat sulit untuk “tidak mengajari” peserta pada saat mereka membuat kesalahan di permulaan latihan.

  1. 2- WAY COMMUNICATION (Komunikasi 2 arah)

Hukum dari 2-way-communication atau komunikasi 2 arah secara jelas menekankan bahwa proses pelatihan meliputi komunikasi dengan peserta, bukan pada mereka. Berbagai bentuk penyajian sebaiknya menggunakan prinsip komunikasi 2 arah atau timbal balik. Ini tidak harus bermakna bahwa seluruh sessi harus berbentuk diskusi, tetapi yang memungkinkan terjadinya interaksi di antara pelatih/fasilitator dan peserta/partisipan.

 

  1. FEEDBACK (Umpan Balik)

Hukum dari feedback atau umpan balik menunjukkan kepada kita, baik fasilitator dan peserta membutuhkan informasi satu sama lain. Fasilitator perlu mengetahui bahwa peserta mengikuti dan tetap menaruh perhatian pada apa yang disampaikan, dan sebaliknya peserta juga membutuhkan umpan balik sesuai dengan penampilan/kinerja mereka.

Penguatan juga membutuhkan umpan balik. Jika kita menghargai peserta (penguatan yang positif) untuk melakukan hal-hal yang tepat, kita mempunyai kesempatan yang jauh lebih besar agar mereka mengubah perilakunya seperti yang kita kehendaki. Waspada juga bahwa terlalu banyak penguatan negatif mungkin akan menjauhkan kita memperoleh respon yang kita harapakan.

 

  1. ACTIVE LEARNING (Belajar Aktif)

Hukum dari active learning menunjukkan kepada kita bahwa peserta belajar lebih giat jika mereka secara aktif terlibat dalam proses pelatihan. Ingatkah satu peribahasa yang mengatakan “Belajar Sambil Bekerja” ? Ini penting dalam pelatihan orang dewasa. Jika anda ingin memerintahkan kepada peserta agar menulis laporan, jangan hanya memberitahu mereka bagaimana itu harus dibuat tetapi berikan kesempatan agar mereka melakukannya. Keuntungan lain dari ini adalah orang dewasa umumnya tidak terbiasa duduk seharian penuh di ruangan kelas, oleh karena itu prinsip belajar aktif ini akan membantu mereka supaya tidak jenuh.

  1. MULTIPLE -SENSE LEARNING

Hukum dari multi- sense learning mengatakan bahwa belajar akan jauh lebih efektif jika partisipan menggunakan lebih dari satu dari kelima inderanya. Jika anda memberitahu trainee mengenai satu tipe baru sandwich mereka mungkin akan mengingatnya. Jika anda membiarkan mereka menyentuh, mencium dan merasakannya dengan baik, tak ada jalan bagi mereka untuk melupakannya.

  1. EXERCISE (Latihan)

Hukum dari latihan mengindikasikan bahwa sesuatu yang diulang-ulang adalah yang paling diingat. Dengan membuat peserta melakukan latihan atau mengulang informasi yang diberikan, kita dapat meningkatkan kemungkinan mereka semakin mampu mengingat informasi yang sudah diberikan. Yang terbaik adalah jika pelatih menambah latihan atau mengulangi pelajaran dengan mengulang informasi dalam berbagai cara yang berbeda. Mungkin pelatih dapat membicarakan mengenai suatu proses baru, lalu menunjukkan diagram/overhead, menunjukkan produk yang sudah jadi dan akhirnya minta kepada peserta untuk menyelesaikan tugas yang diberikan. Latihan juga menyangkut intensitas. Hukum dari latihan juga mengacu pada pengulangan yang berarti atau belajar ulang.

  (Sumber : Modul Diklat Penyuluhan Pertanian. STPP. Badan Pengembangan SDM Pertanian. Kementrian Pertanian. 2010)

Sesuai dengan kedewasaan sosialnya, orang dewasa sesungguhnya tidaklah seperti gelas kosong yang dengan mudah dapat kita tuangi sesuatu ke dalamnya. Beberapa prinsip Pendidikan Orang Dewasa yang perlu diperhatikan dan diterapkan dalam penyelenggaraan program, yaitu :

  1. Orang yang mempunyai konsep diri

Orang  dewas  menganggap dirinya mampu untuk membuat keputusan dan mampu menghadapi segala risiko atas keputusannya, serta mengatur hidupnya agar mandiri. Harga diri sangat penting bagi orang dewasa. Seorang dewasa menuntut dihargai terutama dalam hal pengambilan keputusan yang menyangkut diri dan kehidupannya. Sikap yang terkesan menggurui cenderung ditanggapi negatif. Mereka cenderungmenghindar, menolak dan merasa tersinggung apabila diperlakukan seperti anak – anak. Mereka akan menolak situasi belajar yang kondisinya bertentangan dengan konsep dirinya sebagai individu yang mandiri. Sehingga mereka perlu dilibatkan secara penuh dalam menentukan kebutuhan belajar dan merancang belajar secara partisipatif. Sumber belajar berfungsi sebagai pembimbing, fasilitator serta narasumber.

  1. Orang Dewasa Kaya Akan Pengalaman

Makin lanjut usia seseorang, makin banyak pengalaman yang ia miliki. Adapun pengalaman orang dewasa diperoleh dari :

  • Peristiwa yang dialami pada masa lalu dan masa kini.
  • Hubungan dengan lingkungan di sekitarnya.
  • Pengalaman dengan dirinya sendiri pada masa kini dan masa lampau.
  1. Orang Dewasa Mempunyai Kesiapan Belajar

Masa kesiapan belajar orang dewasa berubah sejalan dengan usia dan peran sosial yang mereka tampilkan. Untuk itulah, urutan program belajar berdasarkan tahapan dalam yang relevan dengan peran mereka menjadi penting untuk diutamakan.

  1. Orang Dewasa Berpandangan Untuk Segera Menerapkan Hasil Belajarnya

Orang dewasa senantiasa berorientasi pada kenyataan. Oleh karena itu, kegiatan belajar bagi orang dewasa sebaiknya diarahkan pada kemampuan memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupannya.

  1. Orang Dewasa Itu Dapat Belajar

Sesungguhnya orang dewasa dapat melakukan kegiatan belajar. Apabila orang dewasa tidak menampilkan kemampuan belajar yang sebenarnya, kemungkinan hal ini disebabkan oleh adanya perubahan faktor fisiologis seperti menurunnya pendengaran, penglihatan, atau tenaga sehingga mempengaruhi kecepatan belajarnya. Fasilitator perlu mendorong dan membantu warga belajar untuk belajar sesuai dengan langkah yang mereka inginkan dan terapkan sendiri.

  1. Belajar Merupakan Proses yang Terjadi Pada Diri Orang Dewasa

Setiap warga belajar akan mengontrol langsung proses belajarnya, termasuk potensi intelektual, emosi serta fisik. Ia merasa adanya kebutuhan untuk belajar dan melihat tujuan pribadinya yang akan tercapai melalui belajar. Proses belajar akan terpusatkan pada pengalaman sendiri melalui interaksi dirinya dengan lingkungannya, dengan demikian seni pembelajaran orang dewasa merupakan upaya mengelola lingkungandan proses belajar itu sendiri. Untuk itu, digunakan metode dan teknik dimana warga belajarnya terlibat secara intensif dalam mendiagnosa kebutuhan belajar serta menilai proses belajar.

Orang dewasa tidak suka diperintah untuk melakukan sesuatu, kecuali jika mereka diberi kesempatan untuk bertanya ‘mengapa ?’ dan mengambil keputusannya sendiri.

(Sumber : Modul Petugas Fasilitator P2KP. Bahan Bacaan Pendidikan Orang Dewasa)

Pola pendidikan orang dewasa di sandarkan pada prinsip- prinsip antara lain :

  1.   Orang  dewasa  belajar  dengan  baik  apabila  dia  secara  penuh  ambil  bagian  dalam  kegiatan – kegiatan;
  2. Orang  dewasa  belajar  dengan  baik  apabila  menyangkut  mana  yang  menarik  bagi  dia dan ada kaitannya dengan kehidupannya sehari – hari;
  3. Orang dewasa belajar seb aik mungkin apabila yang dipelajari bermanfaat dan praktis;
  4. Dorongan  semangat  dan  pengulangan  terus- menerus  akan  membantu  seseorang  belajar lebih baik;
  5.   Orang  dewasa  belajar  sebaik  mungkin  apabila  ia  mempunyai  kesempatan  untuk  memanfaatkan  secara  penuh  pengetahuannya,  kemampuannya  dan  keterampilannya  dalam waktu cukup;
  6. Proses belajar dipengaruhi oleh pengalaman- pengalaman lalu dan daya pikir diri warga belajar ;
  7. Saling  pengertian  yang  baik  sesuai  dengan  ciri  utama  orang  dewasa  membantu  pencapaian tujuan dalam belajar.

(Sumber : Bahan Bacaan dan Bahan Pelatihan.  Pengembangan Fasilitator Pemberdayaan Masyarakat. Bagian V. Pengembangan Diri Sebagai Fasilitator Pemberdayaan Masyarakat)

PRINSIP DASAR ISO 9001:2008

PRINSIP DASAR ISO 9001:2008

Pendahuluan

Ketika kita mendengar kata ISO 9001 Sistem Manajemen Mutu, refleks ingatan kita terfokus pada setumpuk dokumen dan sebundel tugas yang bersifat paper work, bekerja menghabiskan waktu dibelakang meja sambil tak henti-hentinya mengupdate data-data lapangan dan menginputnya kedalam table-tabel excel yang membuat anda boring, malas melanjutkan dan bete.

Begitulah gambaran yang selama ini ada dibenak kebanyakan praktisi pabrik, namun sesungguhnya benarkah anggapan itu ? atau hanya karena kesalahan persepsi orang saja ?

Baiklah, dalam catatan ringan ini saya akan mencoba sedikit mengurai benang kusut persepsi kita tentang ISO 9001, semoga bisa memberikan gambaran yang ringkas agar semangat implementasi ISO 9001 bisa sejalan dengan apa yang diinginkan standard ini.

DEFINISI DAN SEJARAH ISO 9001:2008

ISO berasal dari kata Yunani ISOS yang berarti sama, kata ISO bukan diambil dari singkatan nama sebuah organisasi walau banyak orang awam mengira ISO berasal dari International Standard of Organization, sama sekali BUKAN.

ISO 9001 merupakan standard international yang mengatur tentang sistem management Mutu (Quality Management System), oleh karena itu seringkali disebut sebagai “ISO 9001, QMS” adapun tulisan 2008 menunjukkan tahun revisi, maka ISO 9001:2008 adalah system manajemen mutu ISO 9001 hasil revisi tahun 2008.

Pertanyaan berikut yang muncul, apakah ISO sering mengalami revisi ? jawabnya : YA. Seiring perkembangan zaman dan kemajuan teknologi, terutama semakin luasnya dunia usaha, maka kebutuhan akan pengelolaan system manajemen mutu semakin dirasa perlu dan mendesak untuk diterapkan pada berbagai scope industry yang semakin hari semakin beragam.

Versi 2008 ini adalah versi terbaru yang diterbitkan pada Desember 2008 lalu.

Organisasi pengelola standard international ini adalah International Organization for Standardization yang bermarkas di Geneva – Swiss, didirikan pada 23 February 1947, kini beranggotakan lebih dari 147 negara yang mana setiap negara diwakili oleh badan standardisasi nasional (Indonesia diwakili oleh KAN) Marilah kita setback sebentar pada bagaimana sejarah ISO 9001 ada hingga revisi terakhir tahun 2008. Sejarah ISO dimulai dari dunia militer sejak masa perang dunia II. Pada tahun 1943, pasukan inggris membutuhkan sekali banyak amunisi untuk perang sehingga untuk kebutuhan ini dibutuhkan banyak sekali supplier. Sebagai konsekuensinya, maka demi kebutuhan standarisasi kualitas, mereka merasa perlu untuk menetapkan standar seleksi supplier.

Selanjutnya, 20 tahun kemudian perkembangan standarisasi ini menjadi semakin dibutuhkan hingga pada tahun 1963, departemen pertahanan Amerika mengeluarkan standar untuk kebutuhan militer yaitu MIL-Q-9858A sebagai bagian dari MIL-STD series. Kemudian standar ini diadopsi oleh NATO menjadi AQAP-1 (Allied Quality Assurance Publication-1) dan diadopsi oleh militer Inggris sebagai DEF/STAN 05- 8.

Seiring dengan kebutuhan implementasi yang semakin kompleks, maka DEF/STAN 05-8 dikembangkan menjadi BS-5750 pada tahun 1979. Atas usulan American National Standard Institute kepada Inggris, maka pada tahun 1987 melalui International Organization for Standardization, standard BS-5750 diadopsi sebagai sebuah international standard yang kemudian dinamai ISO 9000:1987.

Ada 3 versi pilihan implementasi pada versi 1987 ini yaitu yang menekankan pada aspek Quality Assurance, aspek QA and Production dan Quality Assurance for Testing. Concern utamanya adalah inspection product di akhir sebuah proses (dikenal dengan final inspection) dan kepatuhan pada aturan system procedure yang harus dipenuhi secara menyeluruh.

Pada perkembangan berikutnya, ditahun 1994, karena kebutuhan guaranty quality bukan hanya pada aspek final inspection, tetapi lebih jauh ditekankan perlunya proses preventive action untuk menghindari kesalahan pada proses yang menyebabkan ketidak sesuaian pada produk. Namun demikian versi 1994 ini masih menganut system procedure yang kaku dan cenderung document centre dibanding kebutuhan organisasi yang disesuaikan dengan proses internal organisasi.

Pada ISO 9000:1994 dikenal 3 versi, yaitu 9001 tentang design, 9002 tentang proses produksi, dan 9003 tentang services. Versi 1994 lebih fokus pada proses manufacturing dan sangat sulit diaplikasikan pada organisasi bisnis kecil karena banyaknya procedure yang harus dipenuhi (sedikitnya ada 20 klausa yang semuanya wajib di dokumentasikan menjadi procedure organisasi).

Karena ketebatasan inilah, maka technical committee melakukan review atas standard yang ada hingga akhirnya lahirlah revisi ISO 9001:2000 yang merupakan penggabungan dari ISO 9001, 9002, dan 9003 versi 1994.

Pada versi tahun 2000, tidak lagi dikenal 20 klausa wajib, tetapi lebih pada proses business yang terjadi dalam organisasi. Sehingga organisasi sekecil apapun bisa mengimplementasi system ISO 9001:2000 dengan berbagai pengecualian pada proses bisnisnya.

Maka dikenallah istilah BPM atau Business Process Mapping, setiap organisasi harus memertakan proses bisnisnya dan menjadikannya bagian utama dalam quality manual perusahaan, walau demikian ISO 9001:2000 masih mewajibkan 6 procedure yang harus terdokumentasi, yaitu procedure control of document, control of record, Control of Non conforming Product, Internal Audit, Corrective Action, dan Preventive Action, yang semuanya bisa dipenuhi oleh organisasi bisnis manapun.

Pada perkembangan berikutnya, versi 2008 lahir sebagai bentuk penyempurnaan atas revisi tahun 2000. Adapun perbedaan antara versi 2000 dengan 2008 secara significant lebih menekankan pada effectivitas proses yang dilaksanakan dalam organisasi tersebut. Jika pada versi 2000 mengatakan harus dilakukan corrective dan preventive action, maka versi 2008 menetapkan bahwa proses corrective dan preventive action yang dilakukan harus secara effective berdampak positif pada perubahan proses yang terjadi dalam organisasi. Selain itu, penekanan pada control proses outsourcing menjadi bagian yang disoroti dalam versi terbaru ISO 9001 ini.

8 PRINSIP MANAJEMEN Seperti dijelaskan diatas bahwa ISO 9001 versi 2000 dan versi 2008 lebih mengedepankan pada pola proses bisnis yang terjadi dalam organisasi perusahaan sehingga hampir semua jenis usaha bisa mengimplementasi system management mutu ISO 9001 ini.

System ISO 9001:2008 focus pada effectifitas proses continual improvement dengan pilar utama pola berpikir PDCA, dimana dalam setiap process senantiasa melakukan perencanaan yang matang, implementasi yang terukur dengan jelas, dilakukan evaluasi dan analisis data yang akurat serta tindakan perbaikan yang sesuai dan monitoring pelaksanaannya agar benar-benar bisa menuntaskan masalah yang terjadi di organisasi.

Pilar berikutnya yang digunakan demi menyukseskan proses implementasi ISO 9001 ini, maka ditetapkanlah Delapan prinsip manajemen mutu yang bertujuan untuk mengimprovisasi kinerja system agar proses yang berlangsung sesuai dengan focus utama yaitu effectivitas continual improvement, 8 prinsip manajemen yang dimaksud adalah :

1) Customer Focus : Semua aktifitas perencanaan dan implementasi system sematamata untuk memuaskan customer.

2) Leadership : Top Management berfungsi sebagai Leader dalam mengawal implementasi System bahwa semua gerak organisasi selalu terkontrol dalam satu komando dengan commitment yang sama dan gerak yang synergy pada setiap elemen organisasi

3) Keterlibatan semua orang : Semua element dalam organisasi terlibat dan concern dalam implementasi system management mutu sesuai fungsi kerjanya masingmasing, bahkan hingga office boy sekalipun hendaknya senantiasa melakukan yang terbaik dan membuktikan kinerjanya layak serta berqualitas, pada fungsinya sebagai office boy.

4) Pendekatan Proses : Aktifitas implementasi system selalu mengikuti alur proses yang terjadi dalam organisasi. Pendekatan pengelolaan proses dipetakan melalui business process. Dengan demikian, pemborosan karena proses yang tidak perlu bisa dihindari atau sebaliknya, ada proses yang tidak terlaksana karena pelaksanaan yang tidak sesuai dengan flow process itu sendiri yang berdampak pada hilangnya kepercayaan pelanggan

5) Pendekatan System ke Management : Implementasi system mengedepankan pendekatan pada cara pengelolaan (management) proses bukan sekedar menghilangkan masalah yang terjadi. Karena itu konsep kaizen, continual improvement sangat ditekankan. Pola pengelolaannya bertujuan memperbaiki cara dalam menghilangkan akar (penyebab) masalah dan melakukan improvement untuk menghilangkan potensi masalah.

6) Perbaikan berkelanjutan : Improvement, adalah roh implementasi ISO 9001:2008

7) Pendekatan Fakta sebagai Dasar Pengambilan Keputusan : Setiap keputusan dalam implementasi system selalu didasarkan pada fakta dan data. Tidak ada data (bukti implementasi) sama dengan tidak dilaksanakannya system ISO 9001:2008

8) Kerjasama yang saling menguntungkan dengan pemasok : Supplier bukanlah Pembantu, tetapi mitra usaha, business partner karena itu harus terjadi pola hubungan saling menguntungkan.

Dengan 8 pilar ini diharapkan pelaksanaan ISO 9001:2008 benar-benar menjadi sangat productive dan effective untuk meningkatkan kinerja perusahaan dalam mencapai target-target yang telah ditetapkan.

Refference :

1. ISO 9001:2008 Awareness & Implementation, SGS, March 2009

2. ISO 9001:2008 an International Standard for Quality Management System

3. Nurul Diana Novania, Modul Kuliah Pengendalian Mutu, Universitas Mercu Buana

Sumber : http://www.infometrik.com

PERENCANAAN AGRIBISNIS

PERENCANAAN AGRIBISNIS

Bahan Pelatihan THL-TBPP 2009

 PENGERTIAN

Sebagaimana manajemen organisasi yang lain, dalam manajemen agribisnis juga diterapkan  fungsi-fungsi manajemen  yang telah diterapkan di berbagai kalangan umum, yang dimulai dari fungsi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, evaluasi dan pengendalian. Agribisnis sebagai suatu bidang usaha akan menjadi lebih efisien dan menguntungkan apabila dilakukan dengan penuh  kehati-hatian dan ketelitian dalam perencanaan, pengambilan keputusan, serta pelaksanaan pada saat yang tepat. Oleh karena itu fungsi perencanaan memegang peranan yang sangat penting dalam  agribisnis agar usaha agribisnis tidak mengalami kegagalan.

Menurut Sa’id (2004) fungsi perencanaan mencakup semua kegiatan yang ditujukan untuk menyusun program kerja selama periode teretntu pada masa yang akan dating berdasarkan visi, misi, tujuan, serta sasaran organisasi. Perencanaan dalam agribisnis  dapat dilakukan keuangan, pemasaran, produksi, persediaan, dan lain-lain. Tujuannya agar perusahaan agribisnis mendapatkan posisi yang terbaik berdasarkan kondisi bisnis dan permintaan konsumen pada masa mendatang.

Pengertian perencanaan agribisnis secara operasional diterangkan dalam buku Seri Agribisnis  yang dikeluarkan oleh Badan Pendidikan dan Latihan Pertanian, Departemen Pertanian (1993) sebagai berikut “ perencanaan agribisnis adalah usaha sistematis untuk mencari alternatif-alternatif baru disertai dengan penghitungan konsekuensi finansial terhadap hasil dan biayanya“.

Perencanaan pada dasarnya dapat menjawab pertanyaan 5W dan 1 H, What (apa), Where  (dimana), When (kapan), Who (siapa), Why (mengapa), How (bagaimana) yakni:

  1. Apa yang akan dilakukan ? merujuk pada satu jenis kegiatan (usaha atau bagian dari usaha) dan hasil yang ingin dicapai/dilaksanakan
  2. Dimana kegiatan dilakukan? Merujuk pada lokasi /tempat kegiatan produksi/   pemasaran / pembelian saprodi atau sapronak
  3. Kapan kegiatan tersebut dijalankan? Merujuk pada waktu mulai usaha, panen, kebutuhan pembiayaan.
  4. Siapa yang melaksanakan? Merujuk pada siapa yang akan melaksanakan atau bertanggung jawab terhadap pengadaan faktor produksi, melakukan proses produksi primer (on farm) dan pengolahan/pemberian nilai tambah serta  pemasaran.
  5. Mengapa usaha tersebut dilaksanakan? Merujuk pada keberadaan peluang, misal peluang pasar, ketersediaan faktor produksi (murah atau tidak dibeli atau maksimisasi pemanfaatan sumber daya yang dimiliki), fasilitas kredit produksi dari suatu lembaga pembiayaan/keuangan.  Dapat juga mengapa sub kegiatan dari suatu kegiatan tersebut dilakukan? Merujuk pada keberadaan gangguan teknis yang berakibat pada keuntungan (misalnya : kegiatan melakukan culling pada agribisnis broiler, pemangkasan pada daun  tanaman apel)
  6. Bagaimana usaha tersebut dilaksanakan? Merujuk pada langkah-langkah pengorganisasian suatu kegiatan agribisnis dalam kelompok, kombinasi penggunaan input-input produksi, sehingga diperoleh hasil optimal.

Beberapa teknik perencanaan akan sangat  membantu petani dalam mengambil keputusan untuk waktu yang akan datang disertai dengan pertimbangan atas hasil-hasil di masa lalu. Beberapa catatan dan analisis masa lalu tentang keberhasilan atau kegagalan merupakan informasi yang sangat penting untuk perencanaan agribisnis selanjutnya. Dari catatan dan analisis tersebut dapat dibuat beberapa modifikasi dan peruhahan agar agribisnis yang akan datang jauh leih baik.

  1. PERENCANAAN MENYELURUH (Whole-Farm Planning )

Perencanaan menyeluruh sangat memperhatikan keseluruhan sumber­daya yang dimiliki dan yang akan dipakai dalam usahatani. Tujuan Perencanaan menyeluruh antara lain sebagai berikut:

1) Identifikasi keuntungan tertinggi yang ingin dicapai sesuai dengan tujuan usahatani.

2) Identifikasi sumberdaya yang akan dipergunakan meliputi lahan, tenaga kerja, modal, dan peralatan.

3) Identifikasi kendala-kendala yang dihadapi dan kemungkinan upaya untuk mengatasi waktu yang akan datang.

4) Estimasi kebutuhan dan pencarian modal.

5) Estimasi biaya dan pendapatan.  

6) Estimasi arus uang tunai (cash flow)

Sukses usahatani sangat tergantung pada petani sebagai manajer dalam mengelola usahataninya. Oleh karena itu, diperlukan beberapa hal berikut:

1) Pengetahuan dan kemampuan mendeteksi kapan menambah modal dan bagaimana menggunakannya dengan baik.

2) Pengetahuan tentang berapa biaya bunga yang harus dibayar apabila menarik: modal dari luar misalnya kredit bank.

3) Pengetahuan tentang kapan harus rnembayar bunga dan mengangsur pinjaman dari luar (kredit bank) agar kontinuitas usahatani tidak terganggu.

Perencanaan menyeluruh ini dilengkapi dengan sistem evaluasi dan dapat secara cepat dan mudah mengukur kinerja dan efisiensi usahatani.

  1. PERENCANAAN USAHATANI

Definisi perencanaan usahatani adalah proses pengambilan keputusan tentang segala sesuatu yang akan dilakukan dalam usahatani yang akan datang dan rencana-rencana usahatani berupa perwataan tertulis yang memuat sesuatu yang akan dikerjakan pada periode waktu tertentu untuk tujuan tertentu pula sehubungan dengan usahataninya.

Dengan perencanaa usahatani maka manfaat yang dapat diambil oleh petani adalah a) diperoleh petunjuk tentang apa yang akan dilakukan, b) penyimpangan dan kesalahan dapat dikurangi, c) ada jaminan untuk mendekati kebenaran, d) sebagai alat evaluasi, serta e) kontinuitas usaharani terjamin. Sementara perencanaan usahatani mempunyai krieteria-­kriteria yang baik jika sesuai berikut ini.

1) Rasional, yaitu sesuai dengan situasi yang nyata, misalnya untuk meningkatkan produktifitas diperlukan pupuk urea pada pertanaman padi sawah sehingga tingkat produksi tersebut benar-benar dicapai.

2) Fleksibel, yaitu disesuaikan dengan situasi, misainya untuk peningkatan produktivitas padi tersebut ternyata pupuk urea yang dibutuhkan tidak ada maka dapat diganti dengan pupuk ZA, tetapi tentu dengan dosis yang berbeda karena kandungan N pada urea dan ZA berbeda. Pada urea kandungan N rnencapai 46%, sedangkan pada ZA hanya 20%.

3) Dapat dinilai dan dengan dapat diambil tindakan yang tepat.

4) Menjamin kontinuitas usahatani.

Ada 3 cara menyusun suatu perencanaan usahatani, yakni 1) prdetermined, suatu perencanaan usahatani yang disusun dan ditentukan oleh pemerintah (instansi yang terkait) karena memang ada tujuan tertentu pemerintah sehingga merupakan kebutuhan pemerintah, 2) self-determined plant, yakni suatu perencanaan usahatani yang, disusun dan ditentukan sendiri oleh petani sesuai dengan keinginan dan menjadi keburuhan petani sendiri, serta 3) join plant, yaitu suatu perencanan usahatani yang disusun dan ditentukan oleh petani dengan pemerintah dalam hal ini instansi yang berwenang bersama dengan petani. Sebagai contoh tanam serempak. Cara tanam serempak direncanakan bersama antara para kelompok tani (para petani) dengan dinas pertanian (PPL), dinas pekerjaan umum (pengairan), koperasi (penyediaan pupuk), perbankan (penyediaan modal), dan peme­rintah desa (menyangankut areal yang luas).

Cara tanam serempak ini merupakan kepentingan bersama karena dengan cara tersebut siklus hama penyakit dapat dikendalikan sehingga kontinuitas produksi dan ketahanan pangan dapat terjamin. Petani juga memperoleh bimbingan penerapan teknologi yang sama, produktivitas tinggi, dan pendapatan petani juga meningkat (tinggi).

Perencanaan yang bersifat Kerja sama dengan lembaga pemerintah memerlukan berbagai pembicara. Pembicaraan terarah akan membantu petani dalam perencanaan usahatani sehingga diperlukan beberapa catatan penting untuk pembicaraan bersama. Beberapa hal yang penting dalam pembicaraan tersebut sebagai berikut.

1) Varietas yang akan ditanam, sehubungan  dengan produktivitas dan ketahanannya terhadap hama penyakit.

2) Kapan tanam dan kapan panen sehubungan dengan penyediaan irigasi.

3) Pupuk apa, berapa, dan kapan digunakan sehubungan dengan penyediaan pupuk agar petani tidak mengalami kesulitan.

4) Berapa dan dari mana modal yang diperlukan sehubungan dengan kesiapan pihak perbankan dalam merealisasi kredit usahatani.

Dalam pelaksanaan sehari-hari petani dapat menyusun rencana usahataninya secara berkelompok dengan bimbingan PPL (petugas penyuluh pertanian) atau petugas yang secara periodik berkunjung ke kelompok tani. PPL tersebut harus selalu siap membawa informasi tentang program-program pemerintah, tentang teknologi baru, dan siap mendam­pingi petani dalam pelaksanaan usahataninya.

  1. TITIK TOLAK PERENCANAAN

Titik tolak perencanaan agribisnis adalah perbandingan kuantitatif antara luas tanah, jumlah tenaga kerja, dan jumlah modal. Titik tolak perencanaan agribisnis ditekankan pada faktor-faktor produksi yang paling langka.

  1. Bila tanah paling langka, lakukan intensifikasi usahatani
  2. Bila tenaga kerja paling langka lakukan peningkatan produktivitas per satuan tenaga
  3. Bila modal paling langka lakukan ekstensifikasi usahatani

Dalam perencanaan agribisnis seorang manajer tidak boleh lepas dari apa yang menjadi sasaran agribisnis yang dikembangkan. Sasaran agribisnis yang biasanya mencakup: 

– Penguasaan pasar

Bagaimana kedudukan kita terhadap pesaing

– Pertumbuhan dan perkembangan

Berapa dan bagaimana cepatnya pertumbuhan yang seharusnya

– Profitabilitias

Apa jenis usaha dan berapa jumlah kemungkinan mendapatkan untung

– Hubungan dan prestasi kerja karyawan

Imbalan dan bagian penghasilan apa yang akan diberikan pada karyawan, dan apa yang mereka harapkan

– Hubungan dengan dan hasil dengan penanam modal

Seberapa besar bagian pendapatan yang akan diberikan pada para investor

– Tanggung jawab dan hubungan kemasyarakatan

Jenis bisnis apa yang dikehendaki masyarakat untuk dikelola oleh perusahaan

– Sumber daya fisik

Peralatan, perkakas, dan hal-hal apa saja yang dibutuhkan perusahaan

– Produk dan inovasi

Apa saja yang diutamakan dalam produk baru serta penelitian.

  1. TAHAPAN PERENCANAAN AGRIBISNIS

Perencanaan agribisnis meliputi 3 tahapan yaitu :

  1. Mencari alternatif-alternatif, yaitu suatu usaha untuk menentukan alternatif-alternatif usaha atau kegiatan yang dapat dilakukan dalam mengembangkan agribisnis. Dalam proses penyuluhan agribisnis, penentuan kemungkinan-kemungkinan usaha ini dilakukan, dialami, dan ditemukan sendiri oleh petani nelayan
  2. Menghitung rendabilitas dan melakukan analisis saldo usaha, yaitu kegiatan pencatatan data agribisnis atau pembukuan agribisnis sehingga petani nelayan dapat menghitung biaya dan hasil, serta dapat menganalisa saldo usaha dari alternatif-alternatif yang ditemukan.
  3. Membandingkan situasi baru dengan situasi saat ini. Tahap ini dilakukan dalam usaha menentukan pilihan dari alternatif yang memberikan harapan kenaikan pendapatan dan keuntungan usaha yang paling tinggi. Alternatif itulah yang diberikan prioritas pertama untuk diterapkan
  4. LANGKAH-LANGKAH KEGIATAN PERENCANAAN AGRIBISNIS

Langkah-langkah kegiatan perencanaan agribisnis meliputi :

  1. Identifikasi kebutuhan pasar
  2. Identifikasi kebutuhan industri hilir
  3. Identifikasi jaringan ketersediaan agro input
  4. Identifikasi jaringan ketersediaan modal usaha
  5. Penyusunan pola usahatani yang memiliki keunggulan komparatif komoditi
  6. Perencanaan modal dan pengajuan kredit
  7. Perencanaan tenaga kerja

F.1. Identifikasi Kebutuhan Pasar

Informasi pasar yang perlu dikumpulkan untuk bahan perencanaan agribisnis adalah :

–  Komoditas apa yang diminta pasar

–  Berapa jumlahnya yang diminta

–  Bagaimana kualitas yang diminta

–  Dimana komoditi tersebut dikonsumsi

–  Berapakah harga per satuan yang akan diperoleh

–  Apakah harga tersebut sudah layak

Sumber iformasi pasar diperoleh dari grosir, penjaja/ warung kecil, konsumen akhir dan lembaga keuangan, baik pemerintah atau swasta (bank, dan lain-lain)

F.2. Identifikasi Kebutuhan Industri Hilir

Industri hilir  adalah kegiatan agroindustri yang merupakan salah satu sub sistem atau mata rantai agribisnis. Agroindustri bertujuan untuk meraih nilai tambah dan diversifikasi vertikal untuk tambahan kegiatan atau perlakuan komoditi setelah panen Bentuk kegiatan agroindustri dapat berupa penyimpanan, pengeringan, pengolahan dan pengangkutan (transportasi)

Implementasi agroindustri di pedesaan merupakan pilihan yang tepat karena :

–  mendekatkan produsen primer dengan industri, sehingga dapat meminimalkan biaya transportasi

–  menciptakan peluang dan kesempatan kerja baru di pedesaan

–  membentuk dan mendorong timbulnya nilai baru dalam keseluruhan rangkaian proses agribisnis

–  memberikan nilai tambah pada produk primer

–  mendorong proses komersialisasi agribisnis di pedesaan

F.3. Identifikasi jaringan ketersediaan agroinput

Berbagai lembaga penyedia agroinput bisa  berupa produsen bibit, pupuk, pestisida, dan alsintan beserta grosir dan pengecernya, seperti KUD, Kios, dan sebagainya.

Informasi jaringan ketersediaan agroinput yang perlu dikumpulkan untuk bahan merencanakan agribisnis adalah :

–  Jenis lembaga penyedia (industri hulu)

–  Mutu

–  Jumlah/ volume

–  Harga

–  Waktu ketersediaan

F.4.  Identifikasi jaringan ketersediaan modal usaha

Informasi jaringan ketersediaan modal usaha yang perlu dikumpul-kan untuk bahan merencanakan agribisnis adalah :

–  Cara mendapatkan uang tunai

–  Pihak yang meminjamkan uang untuk modal usaha

–  Cara pengambilan pinjaman dan besarnya bunga

Umumnya para  petani nelayan mendapatkan uang tunai dengan berbagai

Berbagai cara dapat dilakukan oleh petani nelayan dalam mendapatkan uang tunai untuk membiayai usahanya. Cara yang umum dilakukan antara lain :

– Menjual harta kekayaan

– Meminjam

– Mengambil tabungan

– Menyewakan

– Bagi hasil

– Hasil upah kerja

– Arisan

– Menggadaikan barang

F.5. Penyusunan pola usahatani yang memiliki keunggulan komparatif     komoditi

Penyusunan pola usahatani yang memiliki keunggulan komparatif komoditi dilakukan setelah memperhitungkan faktor kebutuhan pasar, kebutuhan agroindustri, ketersediaan agroinput, dan ketersediaan modal.  Disamping itu perlu diperhatikan tiga tahapan perencanaan agribisnis dan tiga titik tolak perencanaan agribisnis.

F.6. Perencanaan modal

Modal Agribisnis mencakup keseluruhan sarana produksi yang habis pakai, alat produksi tahan lama, dan tanah yang dikuasai.

Jangka waktu berputarnya modal :

– Dalam tanah : kekal atau lama sekali

– Dalam bangunan, 10 – 50 tahun

– Dalam alat, 5 – 10 tahun

– Dalam tanaman tahunan, lebih dari 1 tahun

– Dalam tanaman semusim, 1 tahun atau kurang

Kebutuhan modal usaha dalam jangka waktu yang berbeda-beda adalah :

– Kebutuhan modal permanen untuk tanah, alat produksi tahan lama, dan habis pakai yang permanen

– Kebutuhan modal jangka panjang (10 tahun) untuk bangunan, dan tanaman tahunan yang berumur panjang

– Kebutuhan modal jangka sedang (1 – 10 tahun) untuk alat, ternak dan tanaman keras yang berumur kurang dari 10 tahun

– Kebutuhan modal jangka pendek ( sampai 1 tahun) untuk tanaman semusim, ikan dan sarana produksi

Solvabilitas adalah perbandingan modal sendiri yang diinvestasikan dalam agribisnis terhadap modal investasi keseluruhan

Likuiditas adalah sampai berapa jauh agribisnis dapat memenuhi kewajiban finansialnya, misalnya membayar tagihan, hutang, bunga, pajak, rekening dan sebagainya

Rentabilitas menunjukkan berapa besar bunga yang dapat dihasilkan oleh kekayaan total

Dari segi modal agribisnis dapat dipertanggungjawabkan, kalau :

– Solvabilitas lebih dari 80%

– Likuiditas cukup (tidak kurang atau berlebih)

– Rentabilitas lebih besar dari bunga modal yang berlaku

Menurut jangka waktunya, kredit dapat dibagi menjadi :

– Kredit jangka panjang, yaitu 5 tahun atau lebih

– Kredit jangka sedang, yaitu 1 – 5 tahun

– Kredit jangka pendek, yaitu sampai 1 tahun

 F.7. Perencanaan Tenaga Kerja

Perencanaan tenaga kerja dilakukan dengan membagikan kebutuhan tenaga kerja per bulan dengan tersedianya tenaga kerja keluarga tani.  Apabila kebutuhan tenaga kerja lebih besar, maka diperlukan untuk merubah pola agribisnis sehingga dapat diselenggarakan oleh tenaga kerja keluarga atau merencanakan mengambil tenaga kerja lepas.  Apabila penyediaan tenaga kerja lebih besar, maka dicari jalan untuk meman-faatkannya.

Pengangguran tersamar adalah apabila penyediaan tenaga kerja keluarga tani lebih besar daripada kebutuhannya, dan tidak dicari jalan untuk memanfaatkannya.

Tenaga kerja agribisnis dihitung dengan TKSP (Tenaga Kerja Setara Pria) atau Men days selama 1 bulan takwim dalam periode agribisnis, berdasarkan jenis kegiatan yang dilakukan.

Metode penyusunan pola usahatani yang memiliki keunggulan komparatif :

Cara paling sederhana : trial and error  yaitu dengan mencoba-coba menemukan pola rencana yang optimal dengan cara menukar cabang usaha yang memiliki saldo usaha kecil dengan yang besar, dibantu gambar grafik hasil identifikasi kebutuhan pasar, kebutuhan industri, ketersediaan agroinput, ketersediaan modal dan tiga titik tolak perencanaan. Cara yang rumit : linier programing (programasi linier) yaitu menggu-nakan operasional research dengan penghitungan komputer

http://www.nagaisori.com

Mungkinkah Kelompok Petani Kecil (KPK) dapat melaksanakan Pembukuan Keuangan ?

Oleh Nazaruddin Margolang, S.IP.,M.Si

Pertanyaan tersebut tersirat dari pertanyaan peserta diklat Penguatan Kelembagaan Bagi Petugas P4K (Program Peningkatan Pendapatan Petani Nelayan Kecil) yang dilaksanakan selama enam hari di Bulan Desember 2007 di Bapeltan Riau. Kami saja sebagai petugas merasa sulit melaksanakan pembukuan sesuai yang diajarkan apatah lagi petani kecil, demikian ungkapan salah seorang peserta.

Apa yang menjadi kekhawatiran peserta tersebut memang beralasan, karena system pembukuan yang diajarkan meskipun telah dibuat sesederhana mungkin, namun masih terasa rumit dan sulit. Hal ini menunjukkan bahwa kita belum terbiasa dengan catatan-catatan keuangan yang membutuhkan ketelitian. Barangkali ini merupakan salah satu sebab mengapa kita masih banyak yang kesulitan tentang UANG, bukan karena jumlahnya yang kurang tapi karena pengelolaannya yang salah.

Pembukuan Keuangan ini sesungguhnya dapat diterapkan kepada petani, tentunya dengan bimbingan yang serius dan sungguh-sungguh. Salah satu Kelompok P4K di Mataran (NTB) yang memiliki usaha simpan pinjam, menerapkan system pembukuan sebagaimana yang dipelajari pada pelatihan P4K ini, dan mereka bisa, kalau petani di NTB bisa, tentunya petani di RIAU juga bisa.

Selain alasan kemampuan tersebut perlu dipahami bahwa Kelompok Petani Kecil (KPK) adalah organisasi yang difasilitasi Penyuluh dalam pembentukannya adalah merupakan organisasi bisnis sebagai mana organisasi bisnis lainnya yang wajib melakukan pengelolaan keuangan secara tertib, teratur, dan benar, artinya setiap catatan transaksi keuangan harus dibuat secara kronologis dan sistematis, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai alat monitor, pengendali, evaluasi dan sebagai alat manajemen.

Dalam sesi Pembukuan Keuangan Kelompok ini peserta pelatihan diberikan contoh-contoh blanko/Buku Keuangan yang dibutuhkan dalam Kelompok yaitu Buku SIMPANAN, Buku PINJAMAN, Buku DUM (Daftar Uang Masuk) Buku DUK (Daftar Uang Keluar), Buku KAS, Neraca Percobaan dan Neraca dan Laporan Laba Rugi.

Kemudian kepada peserta diberikan kasus usaha GKPK yang memiliki usaha simpan pinjam. Dari kasus tersebut seluruh Peserta mempraktekkan pengisian pembukuan keuangan GKPK dari kasus yang diberikan. Dengan aliran pembukuan sebagaimana gambar berikut.

Dari hasil pengamatan diklat yang dilakukan terlihat bahwa yang dapat mengikuti dan mempraktekan pembukuan serta memahami sampai 100 % ada sekitar 25 % peserta, 25 % dapat mengikuti  dan mempraktekkan walaupun kurang memahami, 40 % dapat mengikuti sekitar 50 – 75 % kegiatan Praktek dan ada sekitar 10 – 20 % atau lebih kurang 3 – 5 orang yang tidak dapat mengikuti dengan alasan pusing dan tidak mengerti.

Ya… memang di sadari untuk memahami teknik pembukuan Keuangan Kelompok ini memerlukan waktu yang cukup. Untuk itu diberikan peluang bagi peserta yang belum memahami untuk bertanya langsung kepada instruktur apabila setelah kembali bertugas menemukan kesukaran dalam membimbing petaninya dalam melakukan pembukuan keuangan kelompok.

Semoga apa yang diperoleh dapat diterapkan dan di transfer kepada petani binaan peserta.

Sumber informasi dalam sesi ”Pembukuan Keuangan” ini adalah Materi Latihan Lembaga Keuangan Mikro (LKM), Ciawi Bogor, Hasil Studi Banding P4K ke Mataram NTB dan Pengalaman dalam melaksanakan Pembukuan Keuangan Lembaga Keuangan Mikro.

PEMBUKUAN KEUANGAN GAPOKTAN PUAP

PEMBUKUAN  KEUANGAN

————————————————————————————————–

Oleh : Nazaruddin Margolang, S.IP.,M.Si, Widyaiswara Pertanian, 2011
(Bahan ajar Diklat Bagi Pengurus Gapoktan PUAP)
A.  PENDAHULUAN

Gapoktan (gabungan  Kelompok Tani) merupakan lembaga di pedesaan yang merupakan gabungan dari Kelompok-Kelompok Tani. Saat ini pemerintah melalui PUAP meluncurkan dana yang lumayan banyak untuk Petani melalui GAPOKTAN ini. Dana yang di hibahkan ini diharapkan dapat memacu pertumbuhan ekonomi petani miskin yang ada di pedesaan, oleh sebab itu proses pengadministrasian kegiatan yang mendapat dukungan dana tersebut perlu diilakukan sebaik mungkin agar sumber dana yang tersedia dapat bermanfaaat secara maksimal.

Kegiatan pembukuan Gapoktan biasanya terbagi dalam dua kelompok yaitu pembukuan non keuangan  yang biasa di pegang  oleh sekretaris dan p embukuan keuangan atau biasa disebut dengan akuntansi yang dikelola oleh bendahara , Kegiatan pembukuan tersebut merupakan proses identifikasi, mengukur dan menyampaikan informasi ekonomi sebagai bahan untuk mempertimbangkan dalam mengambil keputusan oleh para pemakainya.

D ari buku-buku administrasi termasuk buku keuangan yang dimiliki Gapoktan , pada umumnya masih jarang diisi oleh pengurus Gapoktan .

Hal ini disebabkan karena pengurus Gapoktan   menganggap bahwa pengisian buku keuangan sangat rumit dan belum menyadari pentingnya pembukuan keuangan bagi Gapoktan dan kelompok .  Dana-dana yang diterima maupun yang dikeluarkan untuk membiayai kegiatan Gapoktan dicatat tidak sistematis atau bahkan tidak dicatat.  Akibatnya sering keadaan keuangan   Gapoktan tidak jelas dan terjadi kekeliruan perhitungan. Oleh karena itu, catatan keuangan kelompok sangat diperlukan bagi Gapoktan , terutama untuk Gapoktan yang ingin mengembangkan usahanya dan mengembangkan dana Gapoktan /dana bersama Gapoktan .

Dalam Pembukuan Keuangan Gapoktan di PUAP ini menggunakan buku-buku sebagaiberikut :

  1. Buku Kas Harian Uang Masuk
  2. Buku Kas Harian Uang Keluar
  3. Buku Kas
  4. Kartu Simpanan Anggota
  5. Kartu Pinjaman Anggota

Kemudian untuk menganalisis keuangan dan mengetahui Laba atau Rugi digunakan :

  1. Neraca Percobaan dan
  2. Neraca Laporan Laba ugi.

Pada Pembelajaran ini akan diberikan penjelasan dan Sekaligus praktek kegiatan pembukuan keuangan dengan menggunakan blanko di   atas dan kasus-kasus.

PEMBUKUAN Usaha Pelayanan Jasa Alat Dan Mesin Pertanian (UPJA)

(Bahan ajar Penumbuhan dan Pengembangan UPJA Kab. Rokan Hulu)

Oleh :

Nazaruddin Margolang, S.IP., M.Si , Widyaiswara Madya UPT Pelatihan TPH Riau, 2011

  1. PRINSIP-PRINSIP PEMBUKUAN
  2. Sistimatis            :  buku diisi menurut cara-cara tertentu sesuai dengan jenis bukunya.
  3. Kronologis :  buku diisi sesuai dengan urutan terjadinya transaksi.
  4. Informatif :  dapat dipahami/dimengerti oleh semua pihak yang berkepentingan.
  5. Accountable :  buku diisi memenuhi kaidah-kaidah/ ketentuan akuntansi, antara lain : dapat dihitung, dapat dievaluasi, dan dipertanggungjawabkan.
  6. Auditable            :  catatan keuangan dapat diperiksa dengan mudah.
  7. JENIS-JENIS BUKU :

Dalam organisasi usaha seperti UPJA selayaknya memiliki system pembukuan yang memenuhi prinsip-prinsip pembukuan.

Dilihat dari Petugas pada lembaga UPJA maka dapat dirinci pembukuan minimal yang harus dimiliki adalah sebagai berikut :

  1. Petugas Administrasi Umum
  2. Buku Daftar Anggota : mencatat semua anggota
  3. Buku Tamu : Digunakan untuk mencatat Tamu yang datang ke Lembaga UPJA
  4. Buku Notulen Rapat dan Daftar Hadir : Mencatat semua keputusan yang diambil dalam rapat, dan sebagai bukti sah penetapan kebijaksanaan.
  5. Buku Inventaris Barang   : Mencatat semua inventaris yang dimiliki baik yang digunakan untuk memperoleh keuntungan (Alsintan) maupun inventaris yang digunakan untuk Administrasi UPJA (Meja, Kursi, Komputer)
  6. Buku Agenda Surat Menyurat : Mencatat semua surat masuk dan surat keluar
  7. Petugas Administrasi Keuangan
  8. Dok Kartu Simpanan/Saham Anggota : Mencatat danb\ sebagai tanda bukti kepemilikan modal/saham anggota pada UPJA
  9. BUKU PENERIMAAN : Mencatat semua penerimaan Kas.
  10. BUKU PENGELUARAN : Mencatat semua Pengeluaran Kas
  11. Buku Kas Harian. : Mencatat rekap uang masuk dan uang keluar
  12. DOK. KUITANSI : Menghimpun tanda bukti pembelian dan pembayaran
  13. Neraca dan Laporan Laba Rugi : Merupakan Laporan bulanan Keuangan UPJA
  14. Tenaga Teknisi
  15. Buku Service : Mencatat Jenis dan Waktu perawatan Alsintan
  16. Kartu Persediaan Onderdil dan Bahan : Mencatat kondisi Bahan dan spare part.
  17. Operator
  18. Buku Catatan Kegiatan : Mencatat kegiatan harian
  19. Kartu Pelayanan Jasa : Kartu permohonan penggunaan jasa

Hello!

Klik Tautan di bawah untuk mengirim pesan !!!

Kirim Pesan !